25 Sep 2013

ANALISIS METODE DAKWAH YANG DILAKUKAN OLEH DA’I MODERN

ISI :
  • v  METODE DAKWAH DA’I MODERN
  • v  METODE DAKWAH RASULULLAH
  • v  ANTARA METODE DAKWAH DAI MODERN DAN METODE DAKWAH RASULULLAH

 penyusun : MUHAMMAD ISMAIL (1210402055)
KPI B SEMESTER V


Kita awali pembahasan mengenai Metode Dakwah kali ini dengan “11 Nasehat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Kepada Pengemban Dakwah
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang âlim allâmah (berilmu dan sangat luas keilmuannya).seorang mujtahid mutlak abad ini. Beliau adalah pendiri Hizbut Tahrir. Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim bin Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.
Beliau memberikan 11 nasehat Kepada Pengemban Dakwah agar selalu istiqomah dan istimror di jalan dakwah ini :

  • Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.
  • Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.
  • Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh dunia.
  • Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah rasul sebagai suri teladan.
  • Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran.
  • Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda’ Islam.
  • Mengemban dakwah Islam hendaknya dilakukan secara serius. Seorang pengemban dakwah tidak akan mengambil jalan kompromi.
  • Mengemban dakwah mengharuskan setiap langkah memiliki tujuan dan mengharuskan pengemban dakwah senantiasa memperhatikan tujuan itu.
  • Pengemban dakwah hendaknya mengemban dakwah Islam dengan menyajikan peraturan-peraturan yang dapat memecahkan problematika manusia.
  • Ketahulah dan pahamilah: pengemban dakwah tidak akan mampu memikul tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya tanpa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah kepada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran.
  • Para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah dipundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan ridha Allah.

>>>METODE DAKWAH DA’I MODERN

Jaman semakin berkembang seiring dengan pesatnya tekhnologi di alam semesta ini , Hal tersebut sudah barang pasti menjadi suatu ghirah bagi para Da’I dan Da’iah pada masa sekarang untuk memanfaatkan hal tersebut. Lalu bermunculanlah banyak Da’I dan Dai’ah yang bisa disebut Da’I modern, baik itu melalui media cetak, Radio, Tv, dan Internet. Pada kesempatan ini saya hanya akan berbicara secara Umum mengenai Fenomena Da’I modern .
Mungkin memang ada yang salah dengan televisi dan penonton kita.Namun selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa dan kondisi. Kita perlu mencoba memahami aneka ragam tipe ustadz dari sisi betapa ragamnya juga masyarakat kita dalam mengenal islam. Setiap orang membutuhkan dakwah, dan setiap dakwah harus mempunyai seni dan prioritas segmen yang beragam.Karena ada orang yang sejak kecil tertanam kuat kecintaan dan pendidikan islami, namun ada juga yang hingga dewasa tak kunjung jua memulai mengaji a ba ta tsa.Bukan hanya ragam manusianya, mungkin juga keragaman lingkungan dan kondisi di sekitarnya.Mari kita sedikit mengejanya.

Ada ustadz kampung yang bersahaja keliling desa menebarkan dakwah yang sederhana. Dari mulai pengajian warga, khitanan, aqiqahan dan walimahan ia siap berbagi nasehat. Ceramahnya terasa akrab dan renyah karena biasanya dibawakan dengan bahasa setempat.Pakaiannya pun tak jauh berbeda dengan jama'ahnya.Kendarannya bisa jadi kuda besi beroda dua, atau yang semacamnya.Materinya tak jauh dari ibadah dan akhlak sebagai bekal untuk dibawa mati. Keahlian memimpin doa dan shalawat mutlak diperlukan karena termasuk dari inti acara.

Ada ustadz kantoran yang tampil rapi dan siap berbagi nasehat di instansi, menyebarkan nilai islami rahmatan lil alamin di kalangan birokrat, eksekutif muda dan karyawan. Mengingatkan indahnya islam dari setiap sisi kehidupan. Memberikan solusi Islam atas setiap permasalahan yang diajukan. Materi terkadang disampaikan dengan powerpoint yang rapi dan menarik. Istirahat siang di perkantoran menjadi saat yang menyegarkan.

Ada ustadz kajian yang mempunyai jadwal rutin dari masjid ke masjid, atau pesantren ke pesantren. Dengan bahasa yang lugas dan tegas, mengkaji berbagai khazanah keilmuan islam khususnya dari kitab-kitab yang klasik. Mereka mempunyai jamaah setia tersendiri yang bersemangat mengikuti secara rutin.Pendengarnya pun hampir dipastikan membawa buku catatan dan aktif bertanya setelah usai pengajian. Dalil Quran, hadits dan perkataan ulama menjadi bahan utama kajian, diselingi dengan kisah-kisah ulama dan siroh agar lebih menarik.

Ada ustadz kampus dan akademisi, yang sering terbang kesana kemari untuk mengisi perkuliahan, atau seminar dan workshop di berbagai forum maupun universitas.Tidak cukup hanya modal presentasi, namun terkadang dilengkapi dengan makalah dengan berbagai macam referensi.Materi yang dibawakan adalah isu-isu kontemporer dan bagaimana penyikapan terbaik yang diwacanakan.Gagasan dan ide brilian juga tersebar dalam buku dan tulisan opini di koran-koran.

Ada ustadz trainer dan motivator, yang dengan kepiawaiannya dalam mengolah kata dan bercerita, didukung dengan tampilan multimedia yang unik dan menarik, mereka berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain untuk berbagi inspirasi dan motivasi. Menasehati dan mengajak pendengarnya untuk mampu berprestasi dalam setiap bidang kehidupannya.Para peserta terlihat begitu antusias dan bersemangat, dan terkadang diadiri dengan kontemplasi yang mengharukan dan mengisakkan tangis tanpa disadari.

Ada ustadz layar kaca, yang biasa membawakan acara di televisi secara rutin, dan masing-masing mempunyai gaya khas dan menarik, sehingga membuat banyak penonton terkesan dan terkesima. Tuntutan wilayah garap membuat penampilan ustadz ini agak terasa berbeda, bahkan terkadang selalu dalam incaran infotainment yang siap membuka setiap sisi kehidupannya. Mereka harus gaul karena berhadapan dengan banyak jenis manusia, dari mulai artis cantik, pejabat, penyanyi dan sebagainya. Lawakan dan joke yang muncul menjadi salah satu yang diandalkan, sambil sesekali mengambil makna dan hikmah yang tersirap diantaranya.

Tentu saja pembagian di atas bukan hal yang serius atau bisa dipertahankan dengan hujjah.Tulisan ini hanya sekedar asumsi belaka yang sangat mungkin berbeda dengan realitanya. Semangat yang ingin diambil adalah bagaimana mencoba 'berhusnudzhon' dengan fenomena yang ada, agar tidak saling menyalahkan dan bersitegang, namun mencoba saling menghargai dengan wilayah garap masing-masing yang mungkin teramat jauh berbeda.

>>>METODE DAKWAH RASULULLAH

Komunikasi merupakan bagian inheren dalam kehidupan manusia.Bahkan, mempunyai urgensi yang besar dalam menjalani kehidupan itu sendiri, dimana dengan berkomunikasi manusia dapat mengutarakan maksud dan keinginannya serta mentranfer nilai-nilai tertentu yang diinginkan.
Islam sebagai agama yang kaafah dan syumul juga sangat memperhatikan konsep dan nilai dalam berkomunikasi.Sebab, dakwah Islam sendiri berpadu padan dengan komunikasi atau boleh dibilang dakwah itu salah satu bentuk komunikasi.
Sementara itu, komunikasi memiliki seni tersendiri agar suatu informasi dapat diterima dengan baik, benar, dan tepat kepada komunikan. Sehingga, tidak keliru dalam memahami informasi yang dimaksud serta tidak salah memahami keinginan sang pemberi informasi tersebut.
Dalam sejarah dakwah Islam, Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan metode dakwah agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik bagi mad’u (yang didakwahi).
Hal itu dapat dilihat ketika Rasulullah saw melaksanakan wahyu Allah Ta’ala untuk mentauhidkan akidah umat yang keliru dengan menuhankan banyak Illah dan membersihkan peribadahan dari segala bentuk kesyirikan. Beliau secara khusus memiliki sebuah tugas mulia dengan jalan mendakwahkan dien Islam ini kepada umat melalui metode yang haq yaitu berupa cara-cara yang sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala. Diantara metode dakwah beliau saw adalah:
1.  Bil hikmah wal mau’izhah
Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. an-Nahl, 16:125)
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.Oleh sebab itulah Allah Ta’ala meletakkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi Rasulullah dan juga bagi tiap umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau hingga akhir zaman.
Pada ayat tersebut diatas dapat dipahami bahwa cara berdakwah yang diperintah Allah Ta’ala adalah sebagai berikut,
1.Dakwah bil hikmah, yaitu metode dakwah dengan memberi perhatian yang teliti terhadap keadaan dan suasana yang melingkungi para mad’u (orang-orang yang didakwahi), juga memperhatikan materi dakwah yang sesuai dengan kadar kemampuan mereka dengan tidak memberatkan mereka sebelum mereka bersedia untuk menerimanya. Metode ini juga membutuhkan cara berbicara dan berbahasa yang santun dan lugas. Sikap ghiroh yang berlebihan serta terburu-buru dalam meraih tujuan dakwah sehingga melampaui dari hikmah itu sendiri, lebih baik dihindari oleh seorang pendakwah.
2. Dakwah dengan caramau’izhahal-hasanah, yaitu metode dakwah dengan pengajaran yang meresap hingga ke hati para mad’u. Pengajaran yang disampaikan dengan penuh kelembutan akan dapat melunakkan kerasnya jiwa serta mencerahkan hati yang kelam dari petunjuk dien. Pada beberapa da’i, ada yang masih saja menggunakan metode dakwah yang berseberangan dengan hal ini, yaitu dengan cara memaksa, sikap yang kasar, serta kecaman-kecaman yang melampaui batas syar’i.
3. Dakwah dengan perdebatan yang baik, yaitu metode dakwah dengan menggunakan dialog yang baik, tanpa tekanan yang zalim terhadap pihak yang didakwahi, tanpa menghina dan tanpa memburuk-burukkan mereka. Hal ini menjadi penting karena tujuan dakwah adalah sampai atau diterimanya materi dakwah tersebut dengan kesadaran yang penuh terhadap kebenaran yang haq dari objek dakwah. Metode ini menghindari dari semata karena ingin memenangkan perdebatan dengan para mad’u.
2.  Benar dan tegas tanpa kompromi
Sesungguhnya dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang tegas tanpa kompromi. Perkara yang beliau saw sentuh dalam dakwahnya adalah perkara yang paling pokok dan paling mendasar, laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah. Beliau saw menyeru bahwa tidak ada yang wajib diagungkan, diibadahi, ditaati dan dicintai kecuali Allah Ta’ala. Begitu juga terhadap perkara hukum, tidak ada hukum yang wajib diterapkan dan dilaksanakan, kecuali hukum-Nya. Oleh karenanya perkara ini menjadi sangat penting dan oleh karena sifat pembangkangan umat kafir serta muslim yang munafik, maka dakwah ini juga akan menimbulkan kecaman, kemarahan, dan permusuhan.
Namun perkara yang tidak menyenangkan hati ini tidak menurunkan semangat beliau saw untuk tetap berjuang menyampaikan yang haq. Dengan penuh kesabaran dan sifat welas-asihnya, beliau saw beristiqomah membimbing umatnya yang keliru kepada jalan yang lurus. Disamping itu, ketegasan pun beliau saw tampakkan sehingga kebenaran yang hakiki tidak bercampur dengan kebatilan. Beliau saw juga tidak melazimkan hal-hal diluar syari’at yang akan menimbulkan ‘kecintaan’ dari umat yang dengan itu beliau saw akan memperoleh dukungan yang besar.
Allah Ta’ala berfirman,
Artinya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15:94)
Tujuan dakwah Rasulullah adalah mengembalikan sifat penghambaan manusia kepada Rabb-nya semata dan menerapkan hukum yang berlaku di bumi kepada Sang Pembuat hukum Yang sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla. Perkara ini merupakan perkara yang amat berat yang akan menimbulkan ujian dan rintangan berupa penderitaan dan kesakitan, baik jiwa dan fisik.
Melihat kenyataan ini, lalu beranikah kita menuduh Rasulullah tidak mengenal metode dakwah? Ataukah kita menyatakan bahwa dakwah beliau saw menyalahi taktik strategi bagi keamanan dan keselamatannya? Atau bagaimana pula dengan anggapan bahwa dakwah semacam ini seperti membenturkan kepala ke tembok?
Yang patut selalu dipahami adalah bahwa Rasulullah adalah sosok tauladan yang sempurna di segala aspek kehidupan, termasuk dalam metode dakwah.Hal inilah yang patut dijadikan contoh oleh para du’at. Oleh sebab itu, perkataan sebagian umat Islam dewasa ini bahwa situasi umat telah berubah, dahulu umat baru sedikit jumlahnya, sedangkan kini umat Islam merupakan mayoritas sehingga cara yang harus diambil adalah dengan bersaing bahkan dengan bergabung dengan penguasa melalui parlemen. Dalilpun diangkat sebagai pemulus hajat, yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Rasulullah pernah bersabda tentang para nabi keturunan bani Israil yang diutus sebagai para pemimpin politik (siyasah).
Pertanyaan mengenai perkara ini adalah pernahkah Rasulullah dan para sahabatnya duduk berdampingan dalam parlemen Daarun Nadwah, lalu berbincang masalah kenegaraan dengan orang kafir dan musyrik?Adakah Rasulullah dan para sahabatnya masuk ke dalam pemerintahan Abu Jahal dan konco-konconya lalu membentuk partai Islam sebagai partai oposisi menentang pemerintahan yang sedang berkuasa?Secara historis kita bisa mempelajari hal ini.
Dahulu, tatkala kaum musyrikin sudah tidak lagi berdaya menghentikan dakwah Rasulullah melalui cara-cara kekerasan, penekanan, ancaman, serta percobaan pembunuhan—mereka lalu menempuh cara berkompromi dengan berbagai bentuk diplomasi agar Rasulullah bersikap lembut dan toleran kepada mereka. Banyak para ahli diplomasi diutus kepada beliau saw untuk melunakkan prinsip dan pendirian beliau saw. Allah Ta’ala lalu mewahyukan ayat berikut kepada Rasulullah,
Artinya, “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah), maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”(QS. al-Qolam, 68:8-9)
Lalu ketika negosiasi telah gencar-gencarnya ditujukan kepada Rasulullah oleh pihak musyrikin melalui tekanan fisik dan juga mental, dan ketika Rasulullah hampir cenderung kepada konsep dan ajakan mereka, Allah Ta’ala kembali mengingatkan,
Artinya, “Dan sesungguhnya mereka hampir-hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara dusta terhadap Kami, dan kalau sudah demikian tentulah mereka mengambil kamu sebagai sahabat setia. Dan sekiranya Kami tidak memperkuat kamu, niscaya kamu condong sedikit kepada mereka.Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan timpakan kepadamu (siksaan) berlipat-ganda di dunia, dan (begitu pula berlipat-ganda) sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun terhadap Kami.”(QS. al-Isra’, 17:73-75)
Allah Ta’ala mengingatkan bahwa masalah tauhid dan syari’at tidak bisa disamakan dengan masalah perdagangan yang diperbolehkan terjadinya tawar-menawar guna menemukan titik-pertemuan yang sama-sama menyenangkan bagi kedua-belah pihak.Masalah akidah merupakan masalah tersendiri yang tidak memerlukan campuran-campuran baru dari makhluk.Akidah juga merupakan satu hakekat yang mempunyai bagian-bagian yang terpadu yang tidak dapat ditinggalkan sedikitpun oleh pejuang-pejuangnya.Jurang yang memisahkan antara kebenaran yang hakiki dengan kebatilan adalah tidak mungkin dibuatkan perlintasan padanya.Ia merupakan pertarungan yang mutlak dan tidak mungkin dicari perdamaian atasnya.
3.  Tidak menambah dan mengurangi satu huruf pun dari materi dakwah
Orang-orang kafir semasa Rasulullah senantiasa mencari jalan untuk menyelewengkan Rasulullah dari sifat dan karakter dakwahnya yang benar dan tegas. Mereka menginginkan agar Rasulullah mengikuti kehendak hawa-nafsu mereka dengan mengemukakan segala janji dan tipu-muslihat agar beliau saw meninggalkan prinsip dan bergeser dari jalan yang telah ditetapkan-Nya. Dalam al-Qur’an, sifat keengganan mereka mengikuti al-Qur’an dan sikap mereka yang berupaya agar Rasulullah mengganti petunjuk yang haq dengan yang mereka kehendaki yaitu pada firman-Nya,
Artinya, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia.” Katakanlah, “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari sisiku sendiri.Aku tidak mengikuti kecuali yang diwahyukan kepadaku.Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).”(QS. Yunus, 10:15)
Inilah dalil Rabbani, memperingatkan nabi-Nya agar tidak merekayasa sistem dakwah dan perjuangan mengikuti konsep orang kafir yaitu memperjuangkan Islam melalui cara kompromi atau sistem demokrasi. Sekiranya Rasulullah cenderung dan setuju untuk berkompromi sebagaimana yang ditawarkan musyrikin Mekkah kala itu, yaitu sesekali mengikuti peribadahan mereka, sehingga mereka pun akan bergantian mengikuti peribadahan Rasulullah, atau dengan menyetujui usulan mereka dalam mencampur-adukkan antara sistem Rabbani dengan sistem jahiliyah, niscaya Allah Ta’ala akan memvonis beliau saw sebagai orang yang berdusta lagi berkhianat terhadap wahyu-Nya. Berikut firman-Nya,
Artinya, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintah itu) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(QS. al-Maidah, 5:67)
Allah Ta’ala amat pengasih lagi penyayang kepada para nabi dan rasul-Nya sehingga Dia membimbing dan senantiasa memperkuat hati para hamba pilihan-Nya tersebut dari kecenderungan untuk berkompromi kepada jalannya orang-orang yang sesat. Sejak hijrah ke Madinah hingga di akhir kehidupan beliau saw, tidak ada waktu yang terlewatkan melainkan untuk berdakwah menebarkan yang haq dan berjihad qital dalam rangka membela dien Islam dari serangan kaum yang memusuhi dien-Nya. Tidak ditemui pada diri beliau saw, meskipun dalam keadaan lemah, untuk bekerja-sama dengan kafir musyrik dalam memperjuangkan dienullah.
Allah Ta’ala telah memperingatkan,
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi teman kepercayaanmu, orang-orang yang diluar kalanganmu karena mereka tak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu, telah nyata kebencian di mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh Kami telah menerangkan ayat-ayat (Kami) jika kamu memahaminya.Beginilah kamu, kamu menyukai mereka padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya.Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman.”Dan apabila mereka menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah dan bercampur benci kepadamu.Katakanlah, “Matilah kamu dengan kemarahanmu itu, sesungguhnya Allah Maha memahami segala isi hati.”(QS. Ali ‘Imron, 3:118-119)
Apabila manusia sekarang ini dan juga yang akan datang tidak mau memahami dan mengambil pelajaran dari perkara penting ini, maka saksikanlah apa yang sudah dan yang akan terjadi akibat mendurhakai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan manakala umat Islam belum bersedia merubah sistem perjuangan parlementer kepada sistem yang yang telah digariskan al-Qur’an, yaitu metode iman, hijrah, i’dad, jihad, dan qital, maka yakinlah perjuangan itu tidak akan pernah sampai kepada cita-cita yang dituju.
Pengalaman di Indonesia misalnya, di zaman rezim Soekarno berkuasa pada pemilu tahun 1955, partai Islam Masyumi berhasil mengungguli perolehan suara partai nasionalis.Oleh karena itu tokoh-tokohnya berhak menduduki jabatan sebagai perdana menteri dan jabatan penting lainnya di pemerintahan, seperti M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Dr. Soekiman, dan Burhanuddin Harahap.Akan tetapi kejayaan itu tidak berlangsung lama dan sejarah menjadi saksi bahwa bukan saja partai Masyumi dibubarkan oleh diktator Soekarno, bahkan mereka ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili.Sementara harapan mereka untuk membangun masyarakat Islam dengan berlakunya syari’at Islam, belum terwujud di Indonesia, baik di kala mereka masih memerintah apatah lagi setelah mereka dipenjarakan.
Di Mesir tahun 1945, Imam Hasan al-Bana tampil sebagai calon tunggal melawan Dr. Sulaiman Ed di daerah Ismailiyah kawasan Terusan Suez. Menurut prediksi politik, perolehan suara akan dimenangkan oleh Imam Hasan al-Bana, Mursyidul ‘Am Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi setelah pengumuman hasil pemilu ternyata kemenangan berada di pihak Dr. Sulaiman Ed. Tatkala jama’ah ikhwan mengadakan protes terhadap pemalsuan kartu suara, tiba-tiba mobil-mobil tank angkatan bersenjata milik Inggris keluar menerjang perhimpunan tersebut dengan melepaskan tembakan-tembakan ke arah jama’ah Ikhwanul Muslimin.
Dua hal tersebut adalah sedikit contoh bentuk kehinaan yang diterima umat Islam akibat meninggalkan sunnah, kecenderungan bekerja-sama dengan cara-cara yang tidak diridhai-Nya, serta keengganan mempersiapkan kekuatan fisik untuk berjihad secara qital melawan musuh yang memerangi dien-Nya.
Camkanlah seruan Allah Ta’ala,
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (yang munafik) yang berkata, “Kami mendengarkan,” padahal mereka tidak mendengarkan (karena hati mereka mengingkarinya).”(QS. al-Anfal, 8:20-21)


>>ANTARA METODE DAKWAH DAI MODERN DAN METODE DAKWAH RASULULLAH

Saya secara pribadi akan menganalisis dengan kemampuan yang terbatas. Jika ditanya apa perbedaan antara Metode dakwah rasul dan Da’I modern maka akan lebih baik jika kita mengetahui kesamaan metode dakwah Rasul dan Da’I modern. Pada intinya persamaan tersebut terletak pada tujuan dakwah itu sendiri yaitu “mengajak” dalam Objeknya yaitu mengajak kepada agama Allah yang Haq.

Lalu apa perbedaan antara Metode Dakwah Rasulullah dan Da’I modern? Saya membagi menjadi 3 hal :
Ø Dari segi “Cara” dan “Penyampaian
Ø Dari segi “media

          Ø  Dari segi “Cara” dan “penyampaian
Seperti yang telah disampaikan diatas Rasulullah dalam berdakwah Tegas tanpa kompromi, suaranya Lantang dan tidak mengurangi dan menambahkan satu hurufpun dalam materi dakwahnya, maksudnya tidak ada fleksibelitas dalam mengatakan yang Haq dan yang Bathil, salah kata Allah maka salah menurut beliau benar kata Allah benar kata beliau. Dalam hal mengadaptasi cara penyampaian diatas Da’I modernpun sebagian masih ada yang berdakwah dengan tegas dan berapi-api, Haq dikatakan Haq, Bathil dikatakan Bathil. Namun tidak bisa dipungkiri masih ada Da’I yang bisa menyembunyikan ilmu, menjual mahal ilmu, dan tidak mengamalkan ilmu menjadi setara dengan kelakuan. Rasa Ikhlas dalam berdakwah sudah sangat langka di Jaman sekarang, jika memang tidak memiliki keikhlasan maka terasa hambarlah apa yang disampaikan. Memang materil dalam hal ekonomi penting namun jika hanya itu yang menjadi prioritas utama maka dikhawatirkan melunturkan tujuan dakwah yang sesungguhnya.Ini hanya pendapat yang pasti terdapat banyak perbedaan dalam segi penilaian.

Ø  Dari segi “media
Jelas terjadi perkembangan yang pesat dalam hal media dalam penyampaian Dakwah seiring berkembangnya tekhnologi dari masa kemasa, jika dulu berdakwah di atas gunung guna meratakan suara hingga terdengar oleh mad’u namun sekarang itu sudah tidak berlaku karena sudah banyak hal yang lebih mudah agar bisa terdengar merata oleh para Mad’u seperti menggunakan pengeras suara dan lain sebagainya. Jika dulu untuk menyampaikan dakwah kepada Mad’u yang tinggal ditempat yang sangat jauh menggunakan surat yang diantar oleh kurir dengan transfortasi hewan butuh waktu yang lama untuk dapat sampai kepada Mad’u. namun sekarang cukup melalui Alat komunikasi dan jaringan Internet dan tidak butuh waktu lama ,bahkan hanya ukuran detik saja sudah sampai kepada Mad’u.
Jika kita resapi harusnya lebih mudah untuk menyampaikan hukum dan agama Allah pada Jaman modern ini.Tapi ternyata lebih sulit untuk menyebarkan agama Allah dan merasuki ke dalam jiwa seorang Mad’u.
Dari Jaman Onta Sampai Toyota, dari Jaman Kuno sampai modern memang terdapat kelebihan dan kekurangan, itu tidak bisa disangkal karna semakin berjalanya waktu teoripun makin berkembang dan terdapat hal-hal baru. Namun tetap dakwah mesti kita lakukan karena itu salah satu tugas manusia.


Sumber :


No comments:

Post a Comment

Followers