4 Oct 2015

Pengertian Metode Diskusi dan Aspek penting didalamnya

Pada kesempatan kali ini Saya akan menguraikan penjelasan tentang "Metode Diskusi", ini saya ambil dari tugas skripsi dengan judul "Penerapan Metode Diskusi Terhadap pelajar SMP Nusantara Plus". Semoga ada manfaatnya buat pembaca sekalian.
Metode Diskusi
1. Pengertian Metode Diskusi
Kata diskusi berasal dari bahasa latin yaitu discussus yang berarti to excamine, investigte (memeriksa atau menyelidiki). Discuture berasal dari kata dis dan cuture, dis artinya terpisah, cuture artinya menggulung/memukul. Kalau di artikan maka discuture adalah suatu pukulan yang dapat memisahkan sesuatu. Atau dengan kata lain membuat sesuatu itu jelas dengan cara memecahkan atau menguraikan sesuatu tersebut. (Ramayulis, 2001:145)
Dalam pengertian umum, diskusi adalah suatu proses yang melibatkan dua atau lebih individu yang berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau saran yang sudah ditentukan melalui cara tukar menukar informasi (informasion sharing) atau pemecahan masalah (problem solving).
Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Diskusi tidak sama dengan berdebat, diskusi selalu diarahkan kepada pemecahan masalah yang menimbulkan berbagai macam pendapat dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompoknya. (Abu Ahmadi, dkk., 1997:57)
Menurut J.J Hasibun dan Moedjiono (1995:20) mengatakan bahwa diskusi ialah suatu penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal atau sasaran yang sudah ditentukan melalui cara tukar menukar informasi mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah.
Sedangkan dalam buku Education Psychology in the class room menerangkan bahwa :
Teacher-pupil planning is in some ways a variant of the group- discussion method, for it is an attempt to solve problems cooperatively and democratically through exchange of ideal, opinions, and felling. Group discussion can be used in different situations, although they are must helpful if they are focused on problem an issues, if handled properly they can be of great help in improving classroom communication. As we indicated in the last chapter, the discussion Method is particularly useful as a way of developing attitudes and thus changing behavior” (Hery Clay Lindgren, 1960:192-293). (Perencanaan guru-siswa adalah beberapa cara dari variasi metode diskusi, itu merupkan upaya untuk mencari solusi atau problem yang ada secara demokratis dan bersama-sama melalui pertukaran ide, gagasan dan perasaan. Diskusi kelompok dapat diterapkan pada situasi yang berbeda walaupun mereka harus didampingi jika mereka difokuskan untuk mencari solusi atau problem dan isu-isu yang ada. Jika ditangani dengan benar diskusi kelompok kelas sebagaimana yang telah kami paparkan pada bab terakhir, metode diskusi merupakan cara yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan dan merubah perilaku).

Dari penjelasan di atas menurut penulis dapat menggambarkan bahwa metode diskusi dalam pendidikan/pembelajaran adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pelajaran, dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa/kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan pembicaraan atau menyusun alternatif pemecahan masalah.

2. Tujuan dan Manfaat Metode Diskusi
Dalam pendidikan agama, metode diskusi ini banyak dipergunakan dalam bidang syariah dan akhlak. Sedang masalah keimanan (‘Aqidah) kurang sesuai apabila metode diskusi ini dipergunakan. Metode diskusi banyak dipergunakan di sekolah-sekolah tingkat lanjutan dan perguruan tinggi. (Zuhairini, dkk., 1983:93-94)
Dalam pendidikan/pembelajaran, metode diskusi diterapkan sebagai salah satu metode yang dapat digunakan guru untuk mengatasi kesulitan belajar mengajar di kelas. Kejenuhan siswa terhadap bahan/materi yang disampaikan guru muncul karena kurang menariknya metode mengajar yang diterapkan guru, bahkan terkesan monoton dalam menyampaikan materi. Kebanyakan dalam pembelajaran aqidah akhlak guru masih menggunakan metode ceramah. Kalau dilihat dari segi pengertian di atas bahwa metode diskusi lebih pas diterapkan dalam pembelajaran aqidah akhlak. Metode diskusi juga dapat dijadikan sebagai dasar berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah yang muncul, khususnya terkait dengan materi/bahan yang diajarkan.
Metode diskusi juga dimaksudkan untuk merangsang siswa dalam belajar dan berpikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan obyektif dalam pemecahan suatu masalah sehingga dengan metode ini diharapkan proses pembelajaran akan lebih mengarah pada pembentukan kemandirian siswa dalam berpikir dan bertindak. Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering kali dihadapkan pada persoalan-persoalan yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan satu jawaban atau satu cara saja, tetapi perlu menggunakan banyak pengetahuan dan macam-macam cara pemecahan dan mencari jalan yang terbaik.
Diskusi juga mengandung unsur-unsur demokratis, berbeda dengan ceramah, diskusi tidak diarahkan oleh guru; siswa-siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Ada berbagai bentuk kegiatan yang dapat disebut diskusi; dari tanya jawab yang kaku sampai pertemuan kelompok yang tampaknya lebih bersifat terapis daripada instruksional. (Amirul Hadi, 2001:84)
Sedangkan dalam bukunya J.S. Khamdi (1995:16-19) (Diskusi yang Efektif), menerangkan bahwa, tujuan diskusi adalah :
a.  Menumbuhkembangkan Tradisi Intelektual
Menumbuhkembangkan tradisi intelektual hanya dapat ditempuh dengan membiasakan berpikir bersama. Hanya dengan berpikir bersama kita dapat melihat suatu realitas atau suatu masalah dari berbagai sudut pandang.
b.  Mengambil Keputusan dan Kesimpulan
Keputusan adalah kegiatan akal yang mengakui atau mengingkari suatu realitas atau masalah. Sedang keputusan merupakan satu-satunya pernyataan yang benar atau tidak benar. Di dalam diskusi, bersama-sama kita merumuskan keputusan; pengakuan atau pengingkaran akan realitas atau masalah. Berdasarkan keputusan inilah, kita merumuskan kesimpulan sebagai pijakan bersama dalam menghadapi permasalahan
c.  Menyamakan Apresiasi, Persepsi, dan Visi
Di dalam diskusi, ‘mengerti’ dan ‘mau’ menjadi tujuan utama, sehingga terciptakan kesamaan pemahaman, cara pandang, dan wawasan. Itu berarti musyawarah untuk mufakat sungguh-sungguh menjadi kenyataan dalam setiap diskusi.

d.  Menghidupsuburkan Kepedulian dan Kepekaan
Dengan diskusi kepedulian dan kepekaan, setiap pribadi dihidupsuburkan. Hal ini terjadi karena dengan berfikir bersama, kita berusaha untuk mengakui, menghargai, serta menerima keunikan, ketertentuan, dan keutuhan orang lain.
e.  Sarana Komunikasi dan Konsultasi
Sebagai sarana proses berpikir bersama, diskusi akan menjadi sarana berkomunikasi dan berkonsultasi dengan lebih intens dan efektif. Setiap orang akan menemukan pengalaman verbal dan non verbal, pengalaman intelektual dan emosional, serta pengalaman moral dan sosial.
Jadi tujuan diskusi adalah untuk mengasah intelektual seseorang yang didasarkan dengan pikiran rasional, sehingga dalam mengambil keputusan itu ada kesamaan visi yang berdampak pada tingkat kepedulian yang tinggi.
Metode diskusi sebagai salah satu metode pembelajaran yang tepat digunakan atau diterapkan dalam pembelajaran fiqih khusus ditingkat sekolah dasar sudah saatnya peserta didik dibimbing agar mempunyai kemandirian dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi. Dan kondisi masyarakat yang demokratis diskusi perlu dikembangkan dan terus diterapkan dalam proses belajar mengajar. Guru harus pandai-pandai menerapkan metode dalam tiap-tiap mata pelajaran yang diajarkan agar apa yang diinginkan dalam tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Adapun manfaat dan keuntungan yang dapat diambil dari metode diskusi antara lain :
a.  Membantu siswa untuk tiba kepada pengambilan keputusan yang lebih baik daripada memutuskan sendiri.
b.  Siswa tidak terjebak pada jalan pemikiran sendiri, yang kadang salah, penuh prasangka dan sempit, karena dengan diskusi ia mempertimbangkan alasan orang lain.
c.  Dengan diskusi timbul percakapan antara guru dan siswa sehingga diharapkan hasil belajarnya lebih baik.
d.  Dengan diskusi memberi motivasi terhadap berpikir dan meningkatkan perhatian kelas.
e.  Diskusi membantu mendekatkan/mengeratkan hubungan antara kegiatan kelas di tingkat perhatian.
f.  Diskusi merupakan cara belajar yang menyenangkan dan merangsang pengalaman. (Suryabrata, 1997:185)
Dari uraian diatas, bahwa manfaat diskusi adalah untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antara siswa dengan guru, serta dapat berpikir secara rasional sehingga menumbuhkan motivasi dalam belajar.
Disamping manfaat yang dapat diambil dari metode diskusi, ada pula keuntungan menerapkan/menggunakan metode diskusi dalam PBM, antara lain:
a.  Metode diskusi melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar.
b.  Tiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajaran.
c.  Dapat menimbulkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
d.  Mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan siswa dapat memperoleh kepercayaan akan diri sendiri.
e.  Dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa. (Suryabrata, 1997:185)
Jadi keuntungan menggunakan metode diskusi adalah untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk ketrampilan (motorik, kognitif, sosial) penghayatan serta nilai-nilai dalam, pembentukan sikap.

3. Macam-macam Metode Diskusi
Beberapa metode dalam pembelajaran yang ditawarkan merupakan solusi dalam mengatasi kejenuhan penerapan PBM. Menurut Zakiyah Daradjat. Metode diskusi yang dilakukan guru dalam membimbing belajar siswa dibagi dalam beberapa jenis, antara lain :
a.  Diskusi Informal
Diskusi ini terdiri dari satu diskusi yang pesertanya terdiri dari peserta didik yang jumlahnya sedikit. Dalam diskusi informal ini hanya seorang yang menjadi pimpinan, tidak perlu ada pembantu-pembantu sedangkan yang lain hanya sebagai anggota diskusi.
b.  Diskusi Formal
Diskusi ini berlangsung dalam suatu diskusi yang serba diatur dari pimpinan sampai anggota kelompok. Diskusi dipimpin oleh seorang pendidik atau peserta didik yang dianggap cakap. Karena semua telah diatur, para anggota tidak dapat begitu saja berbicara (semua harus diatur melalui aturan yang dipegang oleh pimpinan diskusi), diskusi yang diatur seperti ini memang lebih baik. Kebaikan metode diskusi ini diantaranya :
1) Adanya partisipasi peserta didik yang terarah terhadap diskusi tersebut.
2) Peserta didik berpikir secara kritis
3) Peserta didik dapat meningkatkan keberanian
Sedang kelemahanya adalah :
1) Banyak waktu yang buang.
2) Berlangsung pada peserta didik yang pandai.
c.  Diskusi Panel
Diskusi ini di ikuti oleh banyak peserta didik sebagai peserta, yang dibagi menjadi peserta aktif dan tidak aktif. Peserta aktif adalah lansung mengadakan diskusi. Sedangkan peserta tidak aktif sebagai pendengar.
d. Simposium
Dalam simposium, masalah-masalah yang akan dibicarakan diantar oleh satu orang atau lebih dan disebut pemrasaran. Pemrasaran boleh berpendapat beda-beda terhadap suatu masalah, sedangkan peserta boleh mengeluarkan pendapat menanggapi yang telah di kemukakan oleh pemrasaran. (Zakiyah Daradjat, dkk., 1995:293:294)
Disamping jenis-jenis diskusi, dalam proses pembelajaran ditawarkan beberapa bentuk diskusi dalam kegiatan belajar mengajar.
a) The social problem solving
Siswa berbincang-bincang memecahkan masalah sosial di kelas dengan harapan siswa merasa terpanggil untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kondisi yang berlaku.
b) The open ended meeting
Siswa berbincang-bincang masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari, dengan kehidupan mereka di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari
c) The educational-diagnosis meeting
Siswa berbincang-bincang masalah pelajaran di kelas dengan maksud untuk saling mengoreksi pemahaman mereka di kelas. (Ramayulis, 2001:147)
Penggunaan metode diskusi dalam proses pembelajaran fiqih di kelas, masih membutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung.
Ada beberapa prinsip-prinsip dasar yang perlu dipegang oleh guru dalam melakukan diskusi antara lain :
a.  Melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi yang diadakan.
b.  Diperlukan keterlibatan dan keteraturan dalam mengemukakan pendapat secara bergilir dipimpin seorang ketua /moderator.
c.  Masalah diskusi disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak.
d. Guru berusaha mendorong siswa yang kurang aktif agar mengeluarkan pendapatnya.
e.  Siswa dibiasakan menghargai pendapat orang lain dalam menyetujui dan menentang pendapat.
f.  Aturan dan jalannya diskusi hendaknya dijelaskan kepada siswa yang belum mengenal tata cara diskusi. (M. Basyiruddin Usman, 2002:36)
Jadi prinsip umum dalam menggunakan metode diskusi adalah guru melibatkan seluruh siswa dan memotivasi siswa dalam berdiskusi serta memberikan penjelasan tentang tata cara berdiskusi
Disamping prinsip-prinsip diatas dalam penerapan metode diskusi, perlu juga memperhatikan syarat-syarat dalam diskusi, antara lain :
a.  Permasalahan yang didiskusikan hendaknya menarik perhatian.
b.  Persoalan yang didiskusikan adalah persoalan relatif banyak menimbulkan pertanyaan.
c.  Peranan moderator yang aspiratif dan proposional.
d. Permasalahan yang didiskusikan hendaknya membutuhkan pertimbangan dari berbagai pihak.
Ada beberapa komponen dam ketrampilan membimbing diskusi, yaitu :
a.  Memusatkan perhatian.
b.  Memperjelas masalah.
c.  Menganalisis pandangan siswa.
d. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi.
e.  Menutup diskusi. (Ali Imran, 1995:149)
Diketahui bahwa diskusi berguna sekali untuk mengubah perilaku efektif siswa secara konkret, karena sikap atau nilai perubahan sukar sekali diadakan jika siswa tidak diberi kesempatan mengatakan perasaannya. (W. James Popham, dkk., 2003:85)
Namun untuk mengubah perilaku kognitif menurut taksonomi Bloom mengenai taraf pengetahuan, tidak efisien dengan metode diskusi. Tetapi perilaku efektif/taraf evaluasi, diskusi tepat digunakan pada fase program pengajaran. (W. James Popham, dkk., 2003:85)
Dalam pelaksanaannya, metode diskusi diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.  Pendahuluan
Pada tahap ini guru dan murid menentukan masalah dan menentukan diskusi yang akan digunakan sesuai dengan masalah yang digunakan sesuai masalah yang akan didiskusikan. (Armai Arief, 2002:147-148)
Pertanyaan/masalah yang layak didiskusikan ialah yang mempunyai sifat sebagai berikut :
1) Menarik minat siswa yang sesuai dengan tarafnya.
2) Mempunyai kemungkinan-kemungkinan jawaban lebih dari sebuah yang dapat dipertahankan kebenarannya.
3) Pada umumnya tidak menanyakan “manakah jawaban yang benar” tetapi lebih mengutamakan hal yang mempertimbangkan dan membandingkan. (Winarno Surahmad, 1987:85)
b.  Pelajaran inti
Metode diskusi dapat dipimpin langsung oleh guru atau murid yang dianggap cakap dan bertangggung jawab.
Dengan pimpinan guru, peran siswa membentuk kelompok diskusi memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris/pencatat, notulis, pelapor) dan sebagainya (bila perlu), mengatur tempat duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya.
Pimpinan diskusi sebaiknya berada ditangan siswa yang :
1)  Lebih memahami/menguasai yang akan didiskusikan
2)  Berwibawa dan disenangi oleh teman-temannya
3)  Berbahasa dengan baik dan lancar bicaranya
4)  Dapat bertindak tegas, adil dan demokrasi
Adapun tugas pimpinan diskusi antara lain, adalah :
1) Pengatur dan pengarah acara diskusi.
2) Pengatur “lalu lintas” pembicaraan.
3) Penengah dan penyimpul dari berbagai pendapat. (Ramayulis, 2001:148)
Selanjutnya para siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok yang lain (kalau ada lebih dari satu kelompok) menjaga ketertiban serta memberikan dorongan dan bantuan sepenuhnya agar setiap anggota berpartisipasi aktif dan agar diskusi berjalan lancar. Setiap peserta kelompok harus tahu persoalan apa yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya diskusi. Diskusi harus berjalan dalam suasana bebas, setiap anggota harus tahu bahwa hak bicaranya sama. (Suryabrata, 1997:182)
c.  Penutup
Pada tahap ini guru atau pemimpin diskusi memberikan tugas kepada audience membuat kesimpulan diskusi, kemudian guru memberikan ulasan atau memperjelas dari kesimpulan diskusi (Armai Arief, 2002:148). Kemudian tiap kelompok diskusi melaporkan hasil-hasil diskusinya yang dilaporkan itu ditanggapi oleh semua siswa (terutama dari kelompok lain) guru memberi penjelasan terhadap laporan tersebut.
Akhirnya para siswa mencatat hasil diskusi tersebut dan guru mengumpulkan laporan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok, sesudah para siswa mencatatnya untuk “file” kelas. (Ramayulis, 2001:148)
4. Tugas Guru dalam Metode Diskusi
Sudah barang tentu guru agama mempunyai tugas yang lebih banyak dalam pelaksanaan diskusi ini mulai dari :
a.  Mencari topik
b.  Membagi kelompok
c.  Mengatur ruang kelas
d. Menetapkan jalan diskusi
e.  Menilai atau mengevaluasi
Di dalam pelaksanaan diskusi guru tidak lagi berfungsi sebagai pengajar saja tetapi guru mempunyai peran lebih dari mengajar yakni sebagai penunjuk jalan, sebagai pengatur lalu lintas, sebagai benteng pelindung. (M. Zein, 1990:176)
Peranan guru dalam penggunaan metode diskusi:
a.  Penunjuk Jalan
1) Guru memberi petunjuk umum kepada peserta didik untuk mencapai kemajuan dalam diskusi. Semua jawaban-jawaban yang diberikan oleh anggota kelompok dijadikan bahan untuk pemecahan masalah.
2) Merumuskan jalannya diskusi.
3) Guru meluangkan jalan bagi siswa sehingga diskusi berjalan dengan lancar.
b.  Pengaturan Lalu Lintas
1) Mengajukan semua pernyataan secara teratur untuk semua anggota diskusi.
2) Menjaga agar semua anggota dapat berbicara bergiliran.
3) Menjaga supaya diskusi jangan semata-mata dikuasai oleh siswa yang gemar berbicara.
4) Terhadap murid pendiam dan pemalu guru harus mendorongnya supaya ia berani mengeluarkan pendapat.
c.  Dinding Penangkis
Guru harus memantulkan semua pertanyaan yang diajukan kepada pengikut diskusi. Dia tidak harus menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya. Dia hanya boleh menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh pengikut diskusi. (Hasibuan, dkk., 2001:23)

No comments:

Post a Comment

Followers